Daerah 3T merupakan daerah tertinggal, terdepan dan terluar di Indonesia, dimana sebagian besar daerah 3T tersebut menjadi gerbang tapal batas Indonesia. Letak daerahnya  yang berada jauh dari ibu kota provinsi menjadikan pertumbuhan ekonomi menjadi terhambat dikarenakan pembangunan infrastruktur yang belum merata. Namun disisi lain, daerah 3T menyimpan keelokan yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia. Sebagai upaya membagikan pengetahuan dan pengalaman kepada generasi muda khususnya di UNS, Pusat Studi ASEAN Universitas Sebelas Maret (PSA UNS) bekerjasama dengan FISIP UNS,  menyelenggarakan acara diskusi kebangsaan dengan tema “Mencerdaskan Generasi Muda di Wilayah Perbatasan Indonesia-Malaysia”.

Diskusi kebangsaan ini dilaksanakan pada hari Senin, 4 Februari 2019 di Ruang Aula Kecil FISIP UNS diikuti oleh 35 peserta dari beberapa fakultas dan program studi di UNS. Minimnya peserta diskusi karena berbarengan dengan libur semester Agustus-Januari 2019 di UNS, namun demikian hal ini tidak menyurutkan partisipasi peserta mengikuti diskusi kebangsaan ini. Hadir sebagai narasumber Ibu  Tumina, S.S., M.Pd,  yang juga Alumni UNS dan saat ini telah menjabat sebagai seorang dosen dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pamane Talino, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat.

Dalam paparannya Ibu Tumina membagikan ceritanya tentang perjalanan menjadi seorang pendidik di wilayah perbatasan di Provinsi Kalimantan Barat khususnya. Kabupaten Landak merupakan salah satu wilayah di Kalimantan Barat,  merupakan wilayah yang masuk ke dalam golongan 3T, yakni tertinggal, terdepan, dan terluar. Dalam menjalankan aktifitas sehari-harinya, masyarakat didaerah tersebut harus bersiap menghadapi kesulitan untuk mendapatkan akses ke berbagai fasilitas umum, mulai dari kesehatan hingga pendidikan, yang terkadang sangat mencolok perbedaannya dengan daerah sebelahnya yang merupakan batas dari Negara lain. Ibu Tumina menambahkan bahwa para generasi muda di sana perlu diberi banyak motivasi dan semangat agar bisa terus maju. Sebagai seorang dosen,  berkarya menjadi pendidik di sana memberikan tantangan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi Ibu Tumina.

Antusiasme  mahasiswa yang hadir terlihat dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan terkait dengan kondisi masyarakat di wilayah perbatasan, terutama keingintahuan mahasiswa  tentang kondisi pendidikan, bidang sosial kemasyarakatan, kesehatan dan aktifitas dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat di sana. Dengan banyaknya gambaran geografis, sosial kemasyarakatan ini nantinya diharapkan dapat memberi cerita baru dan motivasi  mahasiswa mengabdi dan berperan aktif didaerah 3T di Indonesia.

Menurut Drs. Ign. Agung Satyawan, SE, S.I.Kom, Ph.D yang juga menjabat sebagai Kepala Pusat Studi ASEAN LPPM UNS,  kegiatan  yang  diselenggarakan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan serta dapat memotivasi semua anak muda terutama mahasiswa di UNS dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa diwilayah 3T dan mau terjun langsung membangun masyararakt di wilayah 3 T ini melalui pengalaman dari para pelaku pendidikan langsung daerah 3T yaitu Ibu Tumina, S.S. MPd. (Maryani FISIP UNS)

Komentar

Shares