UNS Fintech Center Gelar Webinar Internasional Dalam Perayaan Dies Natalis UNS ke 45

Total
0
Shares

UNS-Dalam rangka perayaan Dies Natalies Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, ke 45,  Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI PT) UNS Fintech Center menyelenggarakan international webinar Contemporary Issues on Islamic Finance and Banking pada Rabu (03/03/2021) malam. Dalam webinar tersebut, UNS Fintech Center mengundang 10 pakar keuangan islam internasional dan Keynote Speech dari Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Prof. Wimboh Santoso.

Membuka acara, Rektor UNS, Prof. Jamal Wiwoho menyapa 900 peserta webinar dan mengungkapkan kebahagiaannya atas kehadiran para pembicara dalam webinar tersebut. Lebih lanjut, Prof. Jamal menyatakan bahwa keuangan islam telah menjadi fokus pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. “Hal ini dibuktikan dengan adanya merger dari tiga bank BUMN syariah menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI),” ungkap Prof. Jamal.

Sebagai pembuka dan sekaligus sebagai Keynote Speaker, webinar dilanjutkan oleh Prof. Wimboh Santoso yang menyampaikan materi terkait kondisi perbankan syariah di Indonesia serta potensi perbankan sharia di Indonesia terkait perbaikan ekonomi pasca pandemi. Dalam pidatonya, Prof. Wimboh juga menjelaskan tentang rencana kebijakan OJK pada tahun 2020-2021. “Nilai perdagangan produk halal/industri halal 3 billion USD, Indonesia merupakan tujuan wisata halal terbaik,” jelas Prof. Wimboh mengawali paparannya.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa ekonomi Indonesia diprediksi dapat pulih di tahun 2021. Dimulainya program vaksinasi nasional meningkatkan optimisme, hal ini didukung dengan peningkatan consumer index di bulan February yang mencapai 88%. Dalam hal kebijakan di bidang ekonomi, telah terdapat sinergi kebijakan antar regulator di sektor keuangan perbankan, seperti restrukturisasi kredit, subsidi bunga pinjaman, budget deficit policy, bantuan likuiditas, LTV relaksasi, quantitative easing.

Terkait peran perbankan syariah, Prof. Wimboh menyatakan bahwa pertumbuhan perbankan syariah cenderung tidak terpengaruh efek pandemi Covid-19 karena mayoritas perbankan syariah terletak di daerah pedesaan. Menutup materi yang disampaikan, Prof. Wimboh berharap semoga materi yang disampaikan akan bermanfaat bagi peserta webinar. “Semoga informasi yang saya sampaikan dapat menjadi dasar pengetahuan tentang kondisi sharia banking in indonesia,” pungkas beliau.

Pemaparan materi dilanjutkan dengan materi mengenai topik terkini di bidang ekonomi islam yang disampaikan oleh Prof. M. Kabir Hassan, (University of New Orleans, USA). Kemudian dilanjutkan dengan materi ketiga oleh Prof. Hussein A. Abdou dari University of Central Lancashire, UK.

Setelah pemaparan dari akademisi, pembicara keempat dan kelima adalah merupakan praktisi regulator di bidang ekonomi dan keuangan syariah Dr. Taufiq Hidayat selaku Direktur KNEKS Indonesia dan  Dwi Irianti, M.A., selaku Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan Indonesia, yang masing-masing menyampaikan materi terkait kebijakan dibidang ekonomi syariah dan pembiayaan melalui sukuk negara. Pembicara selanjutnya, Prof. Mansor H. Ibrahim (INCEIF, Malaysia) meyampaikan materi tentang Ekonomi Islam dan Pertumbuhan Inklusif, yang dilanjutkan oleh pembicara selanjutnya secara berturut-turut yaitu Prof. Ahmet Faruk Aysan (Hamad bin Khalifa University, Qatar), Dr. Mariani Abdul-Majid dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prof Dian Masyita (Universitas Padjajaran-UNPAD), Dr. Fakarudin Kamarudin dari Universiti Putra Malaysia (UPM), dan diakhiri dengan pemaparan dari salah satu dosen di Fakultas Ekonomi dan Binis (FEB UNS), Tastaftiyan Risfandy, Ph.D.

Dalam materinya Dr. Tastaftiyan membahas mengenai mekanisme tata kelola di perbankan syariah. Melalui penelitian yang telah dilaksanakan, Dr. Tastaftiyan menemukan bahwa mayoritas akademisi yang bertindak sebagai anggota Dewan Syariah di bank syariah juga menjabat sebagai anggota Dewan Syariah di bank syariah lain. “SSB atau Dewan Syariah seharusnya independen dari pengaruh manajemen bank. Akan tetapi, anggota Dewan Syariah tetap menerima remunerasi dari perusahaan terkait. Hal ini dapat menyebabkan konflik kepentingan, terlebih jika seseorang menduduki jabatan sebagai anggota Dewan Syariah di lebih dari satu bank,” jelas Dr. Tastaftiyan.

Para peserta menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi pada sesi tanya jawab webinar yang dipandu oleh Dewanti Cahyaningsih M.Rech tersebut. Sebagai penutup acara international webinar ini. Dengan terlaksananya international webinar ini diharapkan mampu mengungkapkan potensi-potensi dari perkembangan kegiatan keuangan dan perbankan islami di Indonesia dan secara global sehingga masyarakat dan peneliti dapat menyesuaikan diri dengan cepatnya perkembangan teknologi keuangan, terutama teknologi keuangan islam.

Reporter: Aulia

Editing: Humas

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like