Seminar Pendidikan dan Beasiswa Digelar oleh HMP Pendidikan Bahasa Inggris UNS

Total
0
Shares
seminar Pendidikan HMP ESA (kiri-kanan) moderator. Dewi Rochsantiningsih (kerudung kuning), Riana Mahfuroh, Hasan Zainnuri, dan Ima Widyastuti.
Foto Pembicara Seminar Pendidikan: (kiri-kanan) moderator. Dewi Rochsantiningsih (kerudung kuning), Riana Mahfuroh, Hasan Zainnuri, dan Ima Widyastuti.

 

HMP Pendidikan Bahasa Inggris ESA FKIP UNS menggelar seminar pendidikan dan beasiswa bertajuk “The Impossible Dream: Reach the Future Here” di gedung F FKIP UNS, Sabtu (2/4/2016). Dalam seminar yang diikuti oleh kurang lebih 350 mahasiswa baik UNS maupun luar UNS ini dihadirkan empat pembicara. Mereka adalah Dewi Rochsantiningsih (Penerima Beasiswa di Australia), Riana Mahfuroh (Penerima Beasiswa Akuntansi di UGM), Hasan Zainnuri (Penerima Beasiswa Pendidikan Dosen di UNS), dan Ima Widyastuti (Penerima Beasiswa Australia Awards Indonesia).

Kepala Program Studi Bahasa Inggris FKIP UNS Teguh Sarosa mengungkapkan bahwa ada dua hal yang bisa membuat perubahan pada diri seseorang. “Yang pertama adalah apa yang dibaca, dan kedua adalah dengan siapa bertemu,” tuturnya. Menurutnya, dua hal tersebut bisa membawa perubahan yang signifikan terhadap akademik para peserta terutama karena mereka juga sudah dipertemukan dalam kesempatan tersebut dengan orang-orang yang sudah berpengalaman dan mendapatkan beasiswa.

“….. tapi kalau kita bisa menunjukkan diri kita kepada mereka kalau kita bisa jadi orang yang baik, bisa tepat waktu, dan lain sebagainya, ya oke banget,” tutur Dewi Rochsantiningsih.

Dewi Rochsantiningsih yang juga Dosen Bahasa Inggris FKIP UNS bercerita terkait dengan pengalamannya dalam menempuh studi di Australia, dan juga bagaimana pandangan orang Asia di mata orang Australia. “Beberapa dari mereka seperti anti kepada orang Asia, tapi kalau kita bisa menunjukkan diri kita kepada mereka kalau kita bisa jadi orang yang baik, bisa tepat waktu, dan lain sebagainya, ya oke banget,” jelasnya.

Salah satu pembicara yang lain, Ima Widyastuti mengatakan jangan putus asa jika surat aplikasi yang dikirimkan tidak diterima oleh penyedia beasiswa. Selain mengatakan untuk tetap mengirimkan dan selalu mencoba, dia berpesan agar jangan sampai berpikir bahwa pelamar yang diterima oleh penyedia beasiswa bukanlah karena hubungan kekerabatan ataupun kedekatan. “Diterima atau tidaknya itu benar-benar murni (dilihat syarat), bukan karena mereka (pelamar) punya kenalan orang dalam,” ungkapnya.[] (dodo.red.uns.ac.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You May Also Like