Selain merayakan dengan berbagai macam pesta dengan hingar-bingar, hari kemerdekaan adalah waktu yang tepat untuk merenung dan berefleksi. Jika berpacu pada kemajuan negara, aspek pertama yang patut diperhatikan bersama adalah bagaimana meramu anak-anak, sebagai generasi penerus bangsa dengan bekal tepat guna menyongsong zaman yang semakin berubah. Kali ini ketika atmosfer kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia masih terkecap dengan seksama, Reza Sukma Nugraha, M.Hum, dosen prodi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS bercerita memajukan bangsa dengan menyirami bibit penerus bangsa dengan sastra anak.

Salah satu media sastra adalah berwujud karya tulis, menurut Reza poin utama yang membedakan sastra anak dengan karya sastra pada umumnya terletak pada sisi cerita atau isinya. “Sastra anak adalah segala bentuk sastra atau bacaan yang ditujukan untuk pembaca anak-anak. Penulisnya bisa jadi orang dewasa atau anak-anak. Yang penting, bacaan tersebut disesuaikan dengan dunia anak-anak sebagai pembaca” terangnya. 

Melalui sastra anak diharap dapat mencetak generasi penerus yang lebih kritis dan paham akan pengetahuan secara kompleks. Tegas dihimbaukan oleh Reza bahwa pengenalan sastra harus dilakukan sejak dini. 

“Sastra harus, bahkan wajib, dikenalkan kepada anak sejak dini. Setelah anak lahir saja, orang tua harus aktif melatih sensor motoriknya, misalnya dengan membiasakan anak mendengar bunyi-bunyian, lagu-lagu anak, diberi permainan-permainan yang merangsang indranya” ungkap Reza.

Dalam perbincangan yang dilakukan secara virtual (15/08/2021) tersebut dosen kelahiran kota Cianjur itu juga mengatakan bahwa di era digital selayaknya sastra lebih mudah didapat dan dinikmati, tergantung bagaimana sebagai orang tua memberikannya dengan sesuai takaran yang tepat. 

“Nah, di era yang serba digital ini, kebiasaan tersebut seharusnya tidak banyak berubah. Hanya medianya saja yang berubah. Bahkan, di era digital tersedia lebih banyak media yang bisa dimanfaatkan untuk mengenal sastra, misalnya orangtua bisa memanfaatkan perangkat digital atau gawai untuk mengenalkan sastra, misalnya lewat audio-book, gim, tayangan untuk anak-anak. Akan tetapi perlu diperhatikan juga literasi digitalnya. Artinya, anak-anak harus diajarkan bagaimana dan kapan memanfaatkan gawai dengan bijak. Jangan hanya diberikan gawai dengan dalih untuk belajar sampai anak kecanduan dan gak bisa lepas. Intinya, sastra bisa sejalan kok dengan dunia digital. Bahkan ada yang namanya sastra digital. Khusus untuk anak, perhatikan saja batasan-batasannya” imbuhnya. 

Berpijak pada segmentasinya sastra anak hadir dengan kemasan lebih menarik dan menggugah daya baca anak-anak. Misalnya dengan menampilkan ilustrasi gambar, simbol, dan bentuk. Anak tumbuh dengan belajar dari lingkungan tempat dia bertumbuh, dia akan meniru apa yang dilihat dan dengar. Jadi, kalau sejak dini dibiasakan mengenal dan disediakan bacaan mendidik, niscaya generasi penerus bangsa akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter mumpuni untuk melukis bangsa menjadi lebih bersinar. (Rensi)