Forprossi diadakan setiap tahun dan pesertanya dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang di dalamnya terdapat Program Studi Sastra Indonesia. Pertemuan Forprossi VI ini merupakan bentuk keberlanjutan dari asosiasi Program Studi Sastra Indonesia se-Indonesia. Pertemuan ini membahas berbagai persoalan, seperti kebijakan pendidikan/akademik, tata kelola program studi, akreditasi, tantangan dan peluang program studi serta isu keilmuan dalam program studi untuk menghadapi era 4.0.

Di tahun 2019 ini, Forprossi diadakan di Fakultas Ilmu Budaya. Kegiatan ini berlangsung mulai tanggal 27-28 Agustus 2019. Selaku tuan rumah, Prodi Sastra Indonesia menyambut baik pertemuan ini. Kegiatan terbagi dalam beberapa kegiatan, yakni seminar nasional, diskusi bersama membahas anggaran dasar dan anggaran rumah tangan, ramah tamah, diskusi panel, dan city tour.

Dihadiri oleh sejumlah 72 peserta, baik dari Kepala Program studi ataupun dosen yang berasal dari 31 perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Dalam Forprossi ini akan ditampilkan 20 makalah dari berbagai bidang baik itu sastra, budaya, linguistik maupun filologi.

Seminar nasional  diselenggarakan di Pedan Ballroom Sahid Jaya Hotel, Surakarta, Selasa (27/08/2019) bertema “Program Studi Sastra Indonesia Dinamis dalam menghadapi Tantangan Era 4.0” dengan menghadirkan narasumber Megawati Santosa, Ph.D (Dirjen Belmawa, Kemenristek Dikti), Prof. Faruk (UGM), Dr. Pujiharto (Ketua Forprossi), dan Dr. Sarwanto (UNS) di Pedan Ballroom Sahid Jaya Solo. Dalam sambutan pembukaan, Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Ahmad Yunus, yang mewakili Rektor mengatakan, “Kita harus membekali anak didik khususnya generasi muda saat ini dengan memberikan pendidikan yang sesuai kurikulum yang siap dimasa datang khususnya menghadapi Era 4.0“.

Sementara itu Dr. Pujiharto selaku Ketua Forprossi mengatakan, “Bersama-sama mencoba mengerti kebijakan dan pengembangan Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia yang masih dihadapkan persoalan tentang nomenkaltur yang belum belum terakomondasi. Dan mencari arah tujuan kekhasan Indonesia dalam tahap pengembangan yang sesuai arah kebijakan dari Dikti”.

“Perlunya arah kebijakan yang berstandar sehingga kedepannya keilmuan mempunyai kesamaan persepsi bisa mengembangkan masing-masing Prodi sesuai dengan visi misi PT yang bersangkutan“, lanjutnya.

Kemudian dilanjutkan oleh persentasi Prof. Faruk (UGM) tentang Kajian Sastra di Era 4.0, “Ilmu sastra sangat penting dalam pembentukan manusia. Pendekatan ekspresi menganggap keseluruhan makna pada suatu karya sangat tergantung pada Subjeknya. Sekarang konsep konstruksi sangat populer, melihat karya sastra sebagai bentuk konstruksi. Yang tak kalah penting adalah teks sebagai struktur (struktural), teks sebagai jaringan (inter-tekstualitas).”

Selanjutnya, acara sore hari adalah diskusi bersama membahas anggaran dasar dan anggaran rumah tangga Forprossi.

Malam harinya, di R.Seminar FIB UNS diadakan ramah tamah yang sebelumnya dihibur oleh tarian dan musikalisasi puisi. Presentasi Kebijakan Dikti tentang Pengembangan Program-Program Studi yang Berciri Khas Keindonesiaan di Era 4.0 oleh Megawati Santosa (ITB), “bahwa artificial intelligence itu tidak akan bermakna tanpa adanya kemampuan language/kemampuan membahasakan. Robotik dan AI tidak akan ada maknanya tanpa kemampuan membahasakan”.

Hari kedua, Rabu, (28/08/2019) diisi diskusi “Akreditasi 9 kriteria & Pembenahan Kurikulum” dan seminar pararel yang terbagi menjadi Linguistik, Sastra, dan Filologi. Siang sampai sorenya diadakan Tur Kota Surakarta dengan bus tingkat Werkudara mengujungi Museum Batik Danarhadi dan terakhir adalah Pura Mangkunegara dan pusat oleh-oleh.

Sumber: https://fib.uns.ac.id/berita/prodi-sastra-indonesia-menjadi-tuan-rumah-pertemuan-forum-program-studi-sastra-indonesia-ke-vi-2019/

Komentar

Shares