Program Studi (prodi) Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS mengadakan Kuliah Pakar dengan mengangkat tema Jurnalistik dan Kepenyiaran melalui platform Zoom Meeting pada Sabtu (09/10/2021). Hadir sebagai pembicara Farida Trisnaningtyas, Reporter Solopos, Dr. Wiwik Yulianti, M.Hum, Dosen Sastra Indonesia FIB dan paktisi penyiaran, serta Dr. Eko Joko Trihadmono, M.Pd. pakar protokol milenial.

Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bagi mahasiswa ini diikuti oleh 95 peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Sastra Daerah. Prof. Dr. Sumarlam, M.S selaku koordinator dan penggagas kegiatan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa dengan diselenggarakannya kuliah pakar ini, segala kerumpangan materi pembelajaran yang belum tersampaikan dalam perkuliahan di kampus bisa dilengkapi.

“Harapannya, ke depan para mahasiswa bisa memperoleh pandangan lebih luas terkait kedua bidang ini, sekaligus menjadikan keduanya sebagai salah satu rujukan untuk mengimplementasikan ilmu-ilmu yang didapat di bangku kuliah” papar Prof. Sumarlam.

Narasumber pertama, Farida mengungkapkan bahwa sebagai jurnalis kini dituntut lebih tangguh, cerdas, dan tetap mengedepankan prinsip jurnalisme di tengah banjirnya arus media informasi di masyarakat. “Dalam menjalankan tugasnya, seorang jurnalis tak hanya asal bekerja, tetapi harus dilandasi moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional untuk menjaga profesionalisme. Pada perkembangannya, kemajuan dan kemudahan teknologi informasi justru menjadi tantangan tersendiri bagi jurnalis zaman now” ungkapnya.

Senada dengan Farida, Dr. Wiwik dalam materinya yang berjudul Menjadi Penyiar Itu Mudah mengatakan bahwa di zaman yang semakin modern menuntut segala profesi dalam bidang penyampaian informasi untuk tetap tangguh, berkarakter, dan bertanggung jawab. “Penyiar Radio itu adalah seseorang yang mampu dan bertanggung jawab mengomunikasikan gagasan, konsep, dan ide, serta bertugas membawakan atau menyiarkan suatu program acara di radio” jelasnya.

Sebagai pembicara terakhir Dr. Eko Joko menjabarkan materinya yang berjudul Bahasa Protokoler Milenial menegaskan bahwa bahasa yang bertele-tele di era milenial saat ini harus diganti dengan lebih lugas dan menarik. “Jaman sudah berubah, masyarakat Jawa sekarang wajib memilih bahasa yang praktis berkaitan dengan bahasa protokoler” lugasnya.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga jam ini bergulir sangat menarik, selain terdapat sesi diskusi para pembicara juga memberikan ruang untuk showcase. Misalnya, Dr. Wiwik memberikan contoh intonasi vokal yang baik sebagai penyiar dan Dr. Eko Joko mendemonstrasikan secara singkat teknik pambiwara. (Rensi)