Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas adakan Workshop secara daring bertajuk  Analisis Ekonometrika Spasial Menggunakan Software Stata, Sabtu 27 Maret 2021.

Workshop diikuti oleh peserta yang persebarannya merata dari perguruan tinggi di Indonesia,   menghadirkan narasumber Randi Kurniawan, SE, MSC. Dosen FEB Universitas Hasanuddin

Sebelum paparan materi meliputi pengenalan konsep ekonometika spasial dan dilanjutkan dengan aplikasinya, narasumber memberikan kuesioner kepada peserta untuk gambaran  seberapa banyak peserta yang telah mengetahui software stata untuk analisis ekonometrika.

Di awal materinya, disampaikan bahwa secara umum, ekonometrika spasial merupakan bagian dari ekonometrika yang mempertimbangkan aspek spasial yaitu adanya keterkaitan antar wilayah  (autocorrelation) dan variasi struktur wilayah (spatial heterogeneity) dalam regresi baik pada data cross section maupun panel.

“Untuk menjalankan ekonometika spasial dibutuhkan data yang memiliki identitas lokasi,  seperti koordinat. Garis lintang, garis bujur adalah  indikator untuk menentukan titik koordinat  dari suatu area” katanya.

Mengutip dari Anselin pada tahun 1998, munculnya aspek spasial dalam ekonometrika teori dan terapan dilatarbelakangi oleh dua faktor yaitu muncul perhatian dalam teori ekonomi untuk memodelkan interaksi antar agen ekonomi dalam suatu sistem.

Oleh karena itu,  dibutuhkan suatu spesifikasi model ekonometrika yang dapat mengestimasi pengaruh suatu variabel di suatu wilayah terhadap variabel yang sama di wilayah lainnya. Contoh tingkat kriminalitas di suatu wilayah kemungkinan dipengaruhi oleh tingkat kriminalitas di wilayah tetangganya. Untuk semacam ini, model ekonometrika standar yang biasa kita pelajari tidak mampu untuk menjawabnya sehingga membutuhkan teknik tersendiri untuk mengatasi  hal tersebut.

Juga munculnya banyak data-data spasial yang memiliki identitas lokasi. Sekarang sudah banyak data yang didapatkan secara gratis maupun berbayar, yang  spasialnya didapatkan titik koordinatnya.

“Misalkan, kita tidak hanya bicara kemiskinan di satu kabupaten, tapi kita tahu bahwa kabupaten itu memiliki titik koordinat sekian-sekian, kemudian kita bisa melihat keterkaitan antara kabupaten yang satu dengan kabupaten lain dari bantuan titik koordinat. Dari itu, maka kita bisa melakukan analisis dengan ekonometrika spasial” ungkapnya.

Sementara itu, untuk tahapan analisisnya, pertama dengan menyusun spesifikasi model ekonometri yang mempertimbangkan aspek spasial. Lalu melakukan estimasi model ekonomtri yang mempertimbangkan efek spasial (Humas FEB)

Komentar