Dalam rangka hari Wayang Nasional, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNS) Universitas Sebelas Maret bekerjasama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggelar kegiatan “Bedah Wayang dan Pagelaran Wayang Klasik”, Jumat, 7 November 2021 di Padepokan Aji Tirto Wening (ATW), Boyolali.

Kegiatan yang didukung oleh Paguyuban Dalang ATW dan Dalang Muda Solo Raya menghadirkan narasumber: Prof. Gunawan Sumodiningrat (UGM), Prof. Iwan Triyuwono (UB), Prof. Djoko Suhardjanto (UNS), Prof. Indah Susilowati (UNDIP), Prof Sarwanto (ISI Surakarta), Eko Yunianto (OJK).

Prof. Djoko Suhardjanto, Dekan FEB UNS dalam sambutannya mengucapkan selamat hari Wayang Nasional, dan ucapan  terima kasih kepada BPIP yang telah memberikan kepercayaan kepada FEB UNS dan komunitas seni sehingga kegiatan Bedah Wayang dan Pagelaran Wayang Klasik bisa terselenggara, semoga memberikan kemanfaatan untuk semuanya.

Setelah diskusi bedah wayang, dilaksanakan pertunjukan wayang klasik, tanpa listrik dan tanpa sound system dengan dalang kondang Ki Warseno Slenk.

Lebih lanjut Prof. Djoko Suhardjanto mengatakan, Wayang Kulit Indonesia dan khususnya wayang Jawa pada pada tanggal 7 November 2003 telah diproklamasikan sebagai karya budaya dunia, Master-piece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO, sebuah Badan PBB yang menangani masalah kebudayaan.

“Wayang ini sungguh luar biasa, mempunyai falsafah yang tinggi bagi kehidupan. Dari sisi manapun bisa kita kupas, bisa dikaji, dari sisi ekonomi, komunikasi, politik dan budaya juga bisa. Pertunjukan wayang kulit juga merupakan perpaduan dari berbagai seni” ungkapnya.

Dalam sebuah pagelaran wayang, ada harmoni yang luar biasa. Gamelan yang terdiri dari Gong, Kenong, Gambang, Celempung, hingga alat musik pendamping lainnya merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama serta menghasilkan suara yang indah.

Sementara itu, Ir.Prakoso, MM, Wakil Deputi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menekankan bahwa pembinaan ideologi Pancasila tidak hanya menjadi tanggung jawab BPIP saja, namun perlu gotong royong dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk peran para dalang agar bisa memberikan edukasi.

“Pertunjukan wayang bukan hanya jadi pertunjukan saja tapi juga sebagai penuntun atau memberikan edukasi kepada masyarakat terutama dalam hidup bernegara dan bermasyarakat yang berlandaskan Pancasila ” katanya.

Di kegiatan itu, dimeriahkan pula dengan tarian Gambyong oleh Prof. Indah Susilowati, Prof. Erni Setyowati dan penari lainnya . (Humas FEB)