Spread the love

Pasar merupakan nafas dari kehidupan ekonomi apalagi pasar tradisional, semua aktifitas ekonomi ada di sana, pembeli, supplyer, dan distributor. Di masa pandemi, kondisi pasar sangat rentan sekali, akhir-akhir ini kluster terbaru muncul dipasar-pasar tradisional seperti di Kudus, Semarang, Sukoharjo sehingga pasar ditutup sementara. Penularan Corona yang sangat cepat akan sangat berpengaruh bukan hanya pada kondisi kesehatan tapi menurunkan kembali kondisi pekonomian kita.

Pengontrolan di pasar tradisional sangat sulit karena banyak sudut yang bisa dijadikan pintu masuk sehingga petugas keamanan tak mudah melakukan pengecekan suhu badan. Berbeda dengan ketika masuk di mall atau supermarket, pintunya tertentu sehingga lebih mudah mengontrolnya.

Pernyataan itu disampaikan Dr. Izza Mafruhah, M.Si., pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) pada Dialog Interaktif RRI bertemakan Pemulihan Ekonomi Menuju Tata Kehidupan Baru, Senin 15 Juni 2020.

Menurut Dosen yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik FEB UNS, banyak masyarakat yang sudah mulai menyadari pentingnya protokol kesehatan, sudah menggunakan masker saat keluar rumah, di setiap depan warung atau toko sudah menyediakan air untuk mencuci tangan yang airnya mengalir. Meskipun demikian masih ada yang menganggap remeh dengan Corona. Jika semua berpikiran seperti ini akan sangat membahayakan bahkan selama beberapa hari terakhir, penambahan jumlah yang terkonfirmasi Covid-19 sangat tinggi, sempat beberapa kali mencapai sekitar 1000 orang. Munculnya kasus-kasus baru akan semakin memperpanjang proses pemulihan ekonomi.

Dalam hal pemulihan ekonomi, tidak bisa langsung, selalu ada mekanisme transmisi yang mungkin tidak bisa cepat tergantung kesiapan seluruh stakeholder yang ada di masyarakat. Pemerintah tidak bisa jalan sendiri, masyarakat harus turun langsung dalam pemulihan ini. Membutuhkan waktu dan pemetaan yang lebih detil lagi sehingga arah pemulihan lebih tepat sesuai dengan yang dibutuhkan.

Terdapat 5 tahap pada pemulihan ekonomi pasca terjadinya krisis yaitu rescue, stability, recovery, development, dan growth. Pada tahapan rescue, di saat banyaknya pengangguran, pemerintah telah meluncurkan kartu prakerja, memberikan pelatihan-pelatihan kepada para pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sebagainya. Saat ini Indonesia masih dalam tahapan stability. OJK, BI dan perbankan bekerja sama memberikan tangguh waktu untuk pembayaran bahkan juga PLN yang juga memberikan penangguhan waktu.

“Stability benar-benar butuh peran masyarakat, untuk memakai masker, untuk jaga jarak, jika badan tidak enak memulihkan diri terlebih dahulu. Setelah stability, berikutnya masuk ke recovery, jarak antara stability dan recovery sangat tipis. Kita bisa menjalankan stability sekaligus untuk recovery” paparnya. (Humas FEB)

Editor: Drs.BRM. Bambang Irawan, M.Si.

Komentar