Spread the love

Sangat banyak hoaks yang beredar di masyarakat disaat pandemi Covid-19. Minggu ini ada 469 berita hoaks tentang corona dan ini bukan jumlah sedikit. Masifnya berita ini sangat berpotensi menimbulkan keragu-raguan pada masyarakat awam yang tidak tahu berita yang sebenarnya. Keragu-keraguan itu bisa mendorong masyarakat untuk bertindak yang sebaliknya.

Pernyataan itu disampaikan Retno Tanding Suryandari, SE, M.E, Ph.D, pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) dan juga Relawan Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) saat Dialog Interaktif RRI, Jumat 12 Juni 2020.

Selanjutnya, dosen yang akrab dengan sapaan Tanding itu mengatakan hoaks yang menimbulkan keragu-raguan justru akan menimbulkan bahaya bagi masyarakat. Contoh salah satu hoaks adalah berita bahwa corona itu sama dengan influensa, jadi tidak perlu khawatir dengan corona, padahal tidak ada fakta yang mendukung bahwa corona sama dengan influensa. Justru riset membuktikan bahwa corona dan influensa adalah sesuatu hal yang berbeda. Corona belum ditemukan vaksinnya sedangkan influensa sudah ada.

Saat pemerintah mulai mengajak masyarakat untuk masuk di tatanan kehidupan baru pun, hoaks masih banyak berkeliaran.

Dalam hal persiapan menuju new normal, Tanding berharap kepada pemerintah agar aturan-aturan yang telah dibuat dikomunikasikan dengan lebih mengalir kepada masyarakat, apa yang harus dilakukan dengan kondisi ini.

“Dalam kondisi new normal, aktifitas akan berjalan seperti biasa, jalan-jalan akan ramai, toko-toko, cafe-cafe mulai buka, kantor-kantor akan aktif secara penuh. Yang perlu kita tekankan bukan masalah pembukaannya, tapi ketika semuanya telah dibuka dan mulai ramai, apakah masyarakat sudah siap dengan tatanan yang baru ini, ada hal-hal yang harus dipertimbangkan, kebiasaan baru yang harus terus menerus dikomunikasikan, ditekankan dan terpantau agar masyarakat mau melakukan kebiasaaan baru yang diharapkan pemerintah” paparnya.

Masyarakat perlu bijak menyaring informasi, apakah berita itu dari otoritas, apakah berita itu benar, apakah layak dan berguna untuk di-share. Kita harus punya pengendalian diri untuk tidak langsung share setiap informasi yang diterima, harus membaca secara utuh dan benar-benar yakin bahwa informasi itu benar, layak dan berguna untuk dishare.

Dipenutup bincangnya, Tanding berharap semua individu punya tanggung jawab untuk meluruskan informasi yang diterima dan tersebar disekitar kita. Kita harus percaya kepada pemerintah, lebih banyak mendengarkan aturan-aturan dari pemerintah karena pemerintah yang membuat aturan meskipun mungkin kurang menyenangkan namun itu yang akan membuat hidup masyarakat lebih nyaman. (Humas)

Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

.

Komentar