Perbincangan terkait merawat kebhinekaan saat ini menjadi salah satu hal sentral yang patut diutamakan, karena menilik kemajuan zaman semakin pesat dengan kemungkinan adanya peluang arus global menggempur nilai kesatuan di NKRI.   Mengilhami permasalahan tersebut komunitas peduli kebhinekaan, Roemah Bhineka Surabaya, mengadakan webinar dengan judul Bicara Sastra Melayu Tionghoa pada Senin (29/03/2021). Hadir sebagai pembicara Kepala Program Studi (Kaprodi) Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS, Dr. Dwi Susanto, S.S., M.Hum.

Kegiatan melalui Zoom Meeting dan live streaming di Youtube Roemah Bhineka Surabaya tersebut menyadari bahwa, aspek budaya tetap mampu berbicara banyak dalam derasnya arus global dan modernisasi. Dalam pemaparan Dr. Dwi Susanto yang berjudul Sastra Peranakan Tionghoa – Indonesia dan Nasionalisme Kebudayaan mengungkap bahwa sastra peranakan Tionghoa ikut membangun sejarah sastra di Indonesia.

“Sastra peranakan Tionghoa mengusung konsep lokalitas dan keberagaman lokalitas, di dalamnya menjelaskan mengenai cita cita, kesopanan, indentitas dan spiritualitas orang timur.  Memalui konsep tadi tidak bisa dipungkiri bahwa realitasnya sastra peranakan turut serta membangun konstruksi sejarah sastra bangsa ini” ungkap Dosen mata kuliah Sejarah Sastra FIB UNS.

Dalam pemaparannya dosen yang gemar dengan bunga Anggrek tersebut juga menerangkan aspek nasionalisme kebudayaan dalam sastra peranakan Tionghoa. “Nasionalisme kebudayaan bukanlah perlawanan terhadap kolonialisme Belanda secara fisik, tetapi satu usaha untuk membangun bangsa yang sama atas dasar satu gagasan yang sama tentang konsep manusia ideal atau aturan sebagai manusia Timur yang dipersatukan dalam wadah bangsa timur” jelas Dr. Dwi Susanto.

Webinar yang dimoderatori oleh Evi Lina Sutrisno (Dosen FISIPOL UGM) ini membawa pesan penguat kebhinekaan di NKRI, kegiatan ini mengerucut pada kesimpulan bahwa budaya yang berbeda sejatinya melahirkan keselarasan sebagai pembentuk kokohnya konstruksi suatu bangsa.  (Rensi)