Unit Kegiatan Mahasiswa Wiswakarman Fakultas Ilmu Budaya UNS gelar pementasan teater tradisional dengan lakon “Kalamunyeng” di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Selasa (28/11).

Kalamunyeng  merupakan pentas produksi tahunan dari UKM Wiswakarman. Sekaligus merayakan perayaan hari jadi Wiswakarman yang ke-28.

Tujuan pentas produksi ini antara lain ikut melestarikan budaya lokal khususnya kesenian tradisional dan membangun skema pelestariannya melalui bentuk pementasan teater. Selain itu bertujuan untuk kreatifitas citra seni kepada masyarakat luas sehingga meningkatkan kreativitas, kualitas, dan inovasi karya cipta seni yang berkualitas.

Kalamunyeng sendiri bercerita tentang perpaduan dari masa dulu dan masa kini. Dimana Kalamunyeng sendiri memiliki makna kala berati waktu dan munyeng berarti berputar jadi kalamunyeng berarti perputaran waktu dari masa ke masa. Berkisah tentang kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Raja Brawijaya VI. Raja Brawijaya VI terusik karena salah satu daerah kekuasaannya, kadipaten Giri ingin memisahkan diri. Kadipaten Giri adalah salah satu daerah kekuasaan Majapahit yang makmur dan sentosa dibawah kepimpinan Sunan Giri, salah satu wali songo. Namun Raja tidak mengijinkan, akhirnya terjadi perang.

Naskah Kalamunyeng ini ditulis oleh Priyo Nugroho dan di sutradari oleh Bondan Ardiansyah mahasiswa prodi Sastra Daerah. “Pementasan Kalamuyeng ini berpesan mengkritik para pemimpin yang tidak bisa mempersatukan rakyatnya, sehingga rakyat membelot dan mendirikan bendera sendiri.” Ungkap Bondan Ardiansyah.

Pementasaan ini melibatkan 27 pemain, 12 orang sebagai pengrawit dan sisanya 15 orang berperan sebagai pemain inti. Salah satunya adalah dosen prodi Sastra Daerah Sahid Teguh Widodo sebagai raja Brawijaya.

Pentas ini menjadi menarik, karena dikemas secara inovatif yakni dengan dagelan kekinian dan juga diselipkan tembang jawa masa kini yaitu Dhandhang Gula.

Pengunjung yang datang baik dari kalangan civitas akademisi, pengiat seni dan masyarakat umum. Juga turut hadir tamu perwakilan dari School of Creative Industry Management & Performing Arts (SCIMPA) Universiti Utara Malaysia. Yang nanti pada tahun 2018 akan datang ke Fakultas Ilmu Budaya untuk berkolaborasi baik dalam hal seni dan budaya.

Riyadi Santosa selaku Dekan FIB yang turut serta dalam kegiatan tersebut berharap dengan kegiatan semacam ini mampu untuk meningkatkan kemampuan berbahasa jawanya, lengkap dengan bahasa ngoko, kromo maupun inggil bagi mahasiswa.” “Mari kita lestarikan budaya jawa salah satunya teater tradisional dalam hal ini ketoprak untuk terus eksis di era sekarang ini.” Lanjutnya.

Sumber: http: fib.uns.ac.id

Komentar

Shares