Di Indonesia ini masih banyak sejarah yang masih tersimpan dan belum diperhatikan oleh masyarakat, yang sejatinya memiliki pengaruh besar dalam perubahan di lingkungannya. Contoh konkretnya adalah sisi kemanusiaan dan perjuangan masyarakat. Hal ini berbeda dengan tokoh-tokoh besar dengan pergerakan mereka, yang mudah diingat dalam sejarah.

Melihat fenomena tersebut diatas, Himpunan Mahasiswa Program studi (HMP) Forum Mahasiswa Sejarah (FMS) tergerak untuk mengupas kondisi dalam kegiatan seminar nasional dengan tema Menelisik Sisi Lain Sejarah dalam Bingkai Kebudayaan Indonesia, Rabu (5/9/2018) di Ruang Seminar Fakultas Ilmu Budaya.

Tema tersebut diangkat untuk memberi ruang bagi kisah sejarah dari masyarakat kecil yang selama ini tidak terlalu diperhatikan. Sekaligus memberikan kesempatan kebudayaan mereka untuk ditunjukkan kepada khalayak ramai. Karena dalam sejarah memiliki banyak hal yang bisa diajarkan. Melalui sejarah pula ruang, waktu, peristiwa, dan pelaku yang telah terjadi akan direkam.  Yang nantinya akan diambil sari-sari kebijaksanaan bagi manusia, sebab manusia memiliki harta karun yang berharga yakni memori.

Secara terpisah, Muhammad Dandi Setiawan, ketua panitia mengatakan, “Tujuan kegiatan ini ingin mengenalkan pada masyarakat sejarah-sejarah masyarakat kecil yang mereka sendiri belum mengenal baik.

Diharapkan dengan perkembangan pengetahuan yang dimiliki,  masyarakat mulai menyadari sejarahnya sendiri dan menumbuhkan ketertarikan masyarakat luas terhadap sejarah.” Lanjutnya

Kegiatan yang dihadiri lebih kurang 150-an peserta ini menghadirkan narasumber Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Organisasi Migrant Care dan Warto, guru besar dan dosen Sejarah tampil sebagai moderator adalah Rani Melina Deasy alumni sekaligus mahasiswa S2 Sejarah UNS.

Wahyu Susilo dengan materinya tentang Buruh Migran menyampaikan, topik buruh migran masih jarang ditulis. Kebijakan-kebijakan yang dilakukan pada masa kolonial terkait perkebunan akhirnya memunculkan bidang-bidang lain yang berkaitan dengannya, sebagai contoh adalah berdirinya kantor inspeksi tentang ketenagakerjaan. Namun pembahasan terkait ketenagakerjaan masih sekadar buruh sebagai subjek kebijakan dan politik kolonial. Istilah buruh terus mengalami perkembangan, pada masa rezim Orde Baru penggunaan kata buruh dilarang dan diganti dengan kata pekerja/tenaga kerja. Hal itu disebabkan karena penggunaan kata buruh identik dengan komunis.

Sementara itu narasumber kedua, Warto yang pada saat juga memangku jabatan sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik mengangkat tentang “New History”. Materi ini mengupas tentang pemahaman sejarah yang berkembang dalam masyarakat pada saat ini.

“Pemahaman masyarakat terhadap sejarah pada saat ini masih belum lengkap. Padahal sejarah bukan hanya soal politik dan orang-orang besar saja, akan tetapi juga tentang orang-orang kecil.” Jelas beliau dihadapan peserta yang hadir.

Sejarah tidak hanya berbicara tentang tokoh-tokoh besar dengan tema besar seperti politik dan militer, akan tetapi sejarah harus berbicara soal seluruh aspek (total history) dan ditulis sesuai dengan fakta. Dengan belajar dari masa lalu maka manusia dapat berpijak untuk masa depan yang lebih baik. Pengkajian sejarah dapat mengajarkan bagaimana masyarakat luas harus bertindak dalam situasi tertentu. Maka dari itu, kesadaran akan sejarah mutlak diperlukan oleh bangsa yang ingin melangkah maju.

Diharapkan, dari kegiatan ini usaha untuk melestarikan nilai-nilai sosial budaya dalam rangka menanamkan kecintaan terhadap sejarah semakin berkembang yaitu dengan mengangkat kisah-kisah milik masyarakat kecil sehingga dapar menambah pengetahuan bagi masyarakat luas.

Sumber: http://fib.uns.ac.id/berita/hmp-forum-mahasiswa-sejarah-fib-ajak-masyarakat-menelisik-sisi-lain-sejarah-dalam-bingkai-kebudayaan-indonesia/

Komentar

Shares