Kerja sama telah terjalin antara Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS dan Xihua University (XHU), China keduanya berkolaborasi membuahkan berbagai kegiatan untuk memajukan peradaban. Salah satu kegiatan yang masih segar dalam ingatan, pada Kamis-Jumat (26-27/11/2020) kedua universitas tersebut mengadakan kegiatan bertajuk “Festival Budaya Fakultas Ilmu Budaya UNS dengan Fakultas Sastra & Jurnalistik Xihua University”. Kali ini pada Kamis, (18/03/2021) kembali keduanya melahirkan kegiatan guna saling tukar wawasan terkait sejarah, budaya,  sastra Jawa dan Bashu. Kegiatan tersebut berupa seminar internasional dan pentas karawitan dengan tajuk “Menjalin Persahabatan Jawa dan Bashu Untuk  Memperkuat Kerjasama Internasional Antara UNS dan Xihua University”.

Dalam seminar yang dilakukan secara luring dan daring ini mengundang delapan pembicara dari  UNS dan Xihua Unversity. Dari tuan rumah hadir  Prof Dr. Warto, M.Hum, Dr. Dwi Susanto, S.S., M.Hum,  dan Drs. Sutarjo, M.Hum. Kemudian dari Xihua University   XIE Yingguang, WANG Xuedong, WANG Yanfei, LI Zhao, dan PAN Shuxian

Mewakili rektor UNS, Prof. Ahmad Yunus, Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS, membuka dan memberikan sambutan dalam seminar internasional ini, menurutnya kegiatan semacam ini mampu menjadi dentuman baru untuk memajukan pendidikan di tingkat internasional. “Kerja sama ini dapat menjadi tangga untuk menuju pada pijakan  yang lebih baik dalam pengembangan wawasan dibidang budaya, sejarah, dan sastra” paparnya.

Seminar yang disiarkan secara langsung melalui Zoom Meeting dan kanal Youtube FIB ini menggunakan dua bahasa, Indonesia dan Mandarin. Sebagai pembicara pembuka Dekan FIB UNS, Prof. Warto. Membahas mengenai “Peran Tionghoa di Surakarta Dalam Pengembangan Budaya Jawa”. Menurutnya Tionghoa yang tinggal di Surakarta memberi kontribusi positif dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Jawa terutama di bidang kesenian.

“Tionghoa di Surakarta mempunyai peran penting dalam memajukan kebudayaan Jawa. Sebagai bagian dari penduduk Jawa yang sejak lama hidup berdampingan dengan penduduk lainnya, Tionghoa yang tinggal di Surakarta memberi kontribusi positif dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Jawa terutama di bidang kesenian. Seni pertunjukkan wayang orang, batik, keris, dan karawitan, adalah beberapa contoh jenis kesenian yang dikembangkan Tionghoa di Surakarta” ungkapnya.

Bertempat di Xihua University, Tiongkok, sebagai pembicara kedua  dalam sesi pertama, XIE Yingguang membahasa “Belajar ke Luar Negeri dan Ciptaan Penulis Modern Sichuan””. Dalam pemaparaanya dekan Fakultas Sastra & Jurnalistik Xihua University ini menjelaskan tentang puisi “Dewi” Guo Moruo yang dianggap sebagai fondasi puisi baru Tionghoa.

Sedangkan Dwi Susanto Kaprodi Sastra Indonesia FIB UNS, membawakan materi berjudul “Resepsi Sastra Cina dalam Kesastraan Indonesia di Masa Kolonial Belanda 1900-1942”. Resepsi itu diantaranya adalah tentang cerita ajaran moralitas dan agama Khonghucu, cerita untuk pendidikan, cerita sejarah, karya politik, dan kisah masa kejayaan para dinasti di kerajaan hingga legenda. Sebelum menuju sesi kedua tanya jawab pertama WANG Xuedong memberikan pemaparan bertema Kehidupan dan Karya Penyair Kontemporer di Chengdu.

Sebagai pembuka sesi ketiga Sutarjo memaparkan seluk beluk mengenai tembang macapat. “Syair-syair dalam tembang macapat memuat nilai-nilai kehidupan manusia sebagai makhluk monopluralis (individu, sosial, Tuhan), kritik sosial, tolak bala, asmara, teka teki, dan sebagainya; yang kesemuanya itu merupakan mutiara kearifan lokal serta kekayaan intelektual bangsa” jelasnya.

LI Zhao membahas “LI Bing dan Dujiangyan (Sistem Irigasi Kuno di Chengdu)”, WANG Yanfei  mengangkat materi berjudul  “DU Fu dan Pondok Jerami” dalam pemaparannya Kaprodi Bahasa Mandarin Fakultas Sastra dan Jurnalistik  Xihua University menjelaskan tentang perjalanan karya puisi dari DU Fu. Menjadi pembicara pamungkas, Kepala Perpustakaan Xihua University, PAN Shuxian mengulik tentang SU Shi dan Budaya Bashu.

Dalam rangkaian kegiatan ini juga dipentaskan seni karawitan sebagai salah satu keunggulan kebudayaan Jawa yang menjadi daya tarik internasional. Dalam waktu dekat sebagai hasil dari kerjasama keduanya mengagas pendirian prodi S-1 Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok di FIB UNS. (Rensi)

Komentar