Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas  Sebelas Maret (UNS) Surakarta melangsungkan Perkuliahan Tatap Muka (PTM) secara hybrid pertama kali pada Selasa (14/09/2021). PTM dilangsungkan sesuai Surat Edaran Wakil Rektor Akademik dan Kemahasiswaan UNS Nomor: 821IIN27/PK.01.03/2021 tentang PTM Mahasiswa Program Sarjana dan Diploma. Perkuliahan secara hybrid merupakan metode perkuliahan luring dan daring yang dilakukan bebarengan, hal ini diputuskan untuk mengendalikan jumlah berkumpulnya seseorang pada suatu ruangan dan mengantisipasi penularan Covid-19.

Wakil Dekan Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan FIB UNS, Prof. Tri Wiratno, M.A juga menjelaskan bahwa berlangsungnya PTM dilakukan secara bersyarat dan mempertimbangkan aspek kesehatan serta keselamatan, untuk itu ada beberapa ketentuan yang mesti ditaati oleh mahasiswa.

“Kami memberikan beberapa ketentuan jelang proses PTM. Misalnya,  mahasiswa dalam keadaan sehat, mahasiswa berdomisili di Solo Raya (Solo, Karanganyar, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen dan Klaten) dengan menunjukkan KTP pada saat masuk lingkungan FIB UNS, mahasiswa sudah mendapatkan vaksin Covid-19 minimal yang pertama dengan menunjukkan sertifikat vaksinnya dan wajib diperiksa suhu tubuhnya pada saat masuk lingkungan FIB UNS” tegas Prof. Tri.

Kendati tetap ada rasa gusar, dosen tetap semangat untuk memberikan perkuliahan. Hal tersebut disampaikan oleh  Dra. RR Chattri Sigit Widyastuti, M.Hum. Dosen Prodi Sastra Indonesia, yang ditemui tengah mengajar di ruang 110 Gedung 1 FIB. “Was-was tetap ada, namun sebagai pengajar kita wajib mengemban tugas kita (mengajar) dengan amanah. Jika ditilik dari aspek protokol kesehatan fakultas sudah sangat baik, hal tersebut agaknya mampu membendung keresahan itu” jelas dosen pengampu mata kuliah Pengantar Linguistik Umum.

Semua tahu bahwa selama pandemi Covid-19 kegiatan perkuliahan dialihkan ke dimensi virtual, hal tersebut sering dikenal dengan istilah Perkuliahan Jarak Jauh (PJJ). Hampir menuju tahun ke dua PJJ berlangsung, mahasiswa yang terbiasa kuliah di kampus terpaksa harus tertahan dan memupuk rindunya untuk melangkah menuju kelas. Rasa excited terpancar dari beberapa mahasiswa FIB yang terekam melalui semangat mereka melangkah ke kampus untuk PTM.

Fatehah Rizkika Ghassani, Mahasiswa prodi Ilmu Sejarah FIB UNS mengaku sangat semangat mengikuti PTM, menurutnya PJJ ada celah yang menjadi kendala. “Ketika mendengar informasi PTM saya langsung sumringah, saya dan bahkan kami sebagai mahasiswa mungkin menyimpan rasa rindu kuliah. Terkadang PJJ itu banyak sekali kendalanya, jadi saya merasa kuliah jadi tidak maksimal” ungkapnya.

Sama halnya seperti Fatehah, Raihan Tri Atmojo mahasiswa prodi Sastra Indonesia juga merasa sangat senang karena PTM sudah dilakukan. “Perasaan dan pendapat saya tentang PTM hari ini tentunya senang, karena bisa belajar lagi langsung di ruang kelas setelah setahun lebih tidak merasakannya” tambahnya.

FIB juga berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga keseterilan lingkungan dan ruangan PTM. Misalnya, menyediakan tempat cuci tangan, hand sanitizer didepan ruang kelas, terdapat selang jarak pada penataan tempat duduk, mengharuskan hanya terdapat selebihnya 20 orang dalam ruangan, dan selesai perkuliahan dilakukan penyemprotan disinfectan.

Proses perkuliahan menjadi hal yang dirindukan, tidak hanya pada dosen dan mahasiswa tetapi juga segenap sivitas akademika FIB. Harapan terbesar adalah segala upaya yang dirancang pemerintah dan institusi guna menjadikan pandemi ke endemi bergulir dengan maksimal, PTM atau PJJ kedua metode tersebut memang memiliki sisi kelebihannya masing-masing. Namun, rasa dan suasana menjadi cerita serta pengalaman yang sulit tergantikan sebagai mahasiswa. (Rensi)

 

Sumber: https://fib.uns.ac.id/news/fakultas-ilmu-budaya-uns-lakukan-ptm