UNS sebagai kampus Benteng Pancasila ikut mendorong dan berpatisipasi untuk mengupayakan implementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sivitas akademika UNS. Sehubungan dengan hal tersebut Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerjasama dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Republik Indonesia menggelar seminar nasional Pancasila Sebagai Platform Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan menghadirkan beberapa figure yang menjadi Ikon Apresiasi Prestasi Pancasila 2019. Kegiatan ini diadakan serentak di seluruh fakultas di lingkungan UNS termasuk Fakultas Ilmu Budaya. Kegiatan yang berlangsung di Ruang seminar FIB ini mengambil tema Pendekataan Ilmu Budaya dalam Merajut Keindonesiaan: Belajar dari Solo, Senin (19-08-2019).

Ikon figure dimaksud adalah Antonius Benny Susetyo (Romo Benny), Marzuki Hasan, Prof. Toeti Heraty, dan Didik Hadiprayitno Beliau hadir di FIB sekaligus sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Adapun narasumber dari FIB adalah Dr. Susanto, M.Hum sejarawan dan Kaprodi Sejarah FIB.

Dalam paparannya Antonius Benny Susetyo dengan materinya Pancasila Jiwa Kebijakan mengungkapkan, “Bagaimana kita membangun keadaban dan keberadaban yang semakin luntur dan itu bisa dicapai dengan perilaku arif dan bijak. Mendasarkan diri pada nilai-nilai Pancasila”.

Senada dengan Antonius Benny Susetyo, Didik Hadiprayitno atau yang lebih dikenal dengan Didik Nini Towok seorang maestro seniman tari mengatakan, “Melalui seni budaya kita bisa merekatkan antar manusia dan meretas semua batas. Lakukan semuanya itu tanpa atribut yang bermacam-macan hanya dengan cinta dan hati. Lewat kesenian akan memberikan olah rasa yang lebih mendalam dan akan berdampak pada kebaikan. Kebudayaan adalah olahrasa, seni budaya yang membentuk karakter bangsa.”

Sementara itu Susanto Kaprodi Sejarah, yang membahas tentang Solo, menegaskan bahwa akar-akar Pancasila secara sosiologis sesungguhnya sudah ada sejak zaman dulu di Solo. Hal itu tercermin dari adanya bentuk masyarakat yang multi etnis dan hubungan sosial yang serasi. Bentuk masyarakat itu lazim dikenal sebagai masyarakat Indisch. Akan tetapi sejak era penduduk Jepang dan revolusi fisik bentuk Indisch Solo semakin pudar karena unsur-unsur Indisch tidak lagi utuh. Saat itulah konflik sosial dan politik sering terjadi. Seringnya muncul konflik pasca revolusi juga disebabkan oleh kapasitas kepemimpinan yang mini visi ke depan. Oleh karena itu belajar dari masyarakat dan kebudayaan Indisch di Solo sebelum revolusi yang mampu membangun konsesus sosial dan politik dengan baik kiranya sangat berguna bagi Indonesia masa kini.

Kegiatan dari pagi sampai siang ini di hadiri kurang lebih 100 peserta dari perwakilan mahasiswa, tenaga pengajar dan staff kependidikan dari FIB berjalan dengan tertib dan lancar. Di akhir acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab

Harapan dari kegiatan ini Sekaligus sebagai langkah untuk membentengi dan menanamkan kembali ideologi bangsa dari ancaman ideology yang bertolak dengan Pancasila.

Sumber : https://fib.uns.ac.id/berita/fakultas-ilmu-budaya-selenggarakan-seminar-nasional-merajut-keindonesiaan-belajar-dari-solo/

Komentar

Shares