Program Studi Akuntansi FEB UNS adakan Diskusi Ilmiah, Rabu 1 Agustus 2018 dengan narasumber Prof. Eko Ganis S Sukoharsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya.

Dalam diskusi yang diikuti oleh seluruh tenaga pendidik Prodi Akuntansi FEB UNS, Eko Ganis paparkan penelitian akuntansi postmodernisme dari makalahnya yang berjudul Paradigm and Postmodern Accounting Research: An Imaginary Dialogue.

Peserta Diskusi Ilmiah ikuti Paparan Narasumber

Ide postmodernisme berasal dari asumsi filosofis ontologi, epistemologi, aksiologi, retorika dan metodologi. Postmodernisme memperkaya agenda penelitian akuntansi, mulai dari pengalaman individu hingga autobiografi.

“Postmodernisme percaya pada metode eksplisit, metode implisit dan atau tidak ada metode. Ini memang sedikit membingungkan. Penelitian tidak selalu dengan metode dan kuncinya adalah bahasa. Melakukan penelitian dalam agenda akuntansi, fenomena yang dibangun oleh masyarakat dengan pemahaman bahasa” jelasnya.

Prof. Eko Ganis (kiri) Jelaskan Riset Postmodernisme Akuntansi

Menariknya, penelitian akuntansi postmodern bisa dimulai dari pengalaman individu, pengembangan teoritis untuk membangun dan merekonstruksi fenomena.

Eko Ganis menambahkan bahwa intelektual yang secara tradisi mengedepankan rasionalitas dan objektivitas, dengan postmodernime mulai dirubah dengan melibatkan spiritualitas dan subjektivitas. Tradisi justifikasi signifikansi kebenaran dengan alat matematis dan statistika, diungkit dengan diskursus, partisipasi kontektual, naratif dan transendental. Satu lagi yaitu tradisi justifikasi generalisasi, dibantah dengan mengedepankan kearifan local (local wisdom)

Di Jawa, kita bisa banyak menemukan bahan-bahan riset atau kajian akuntansi postmodernisme, misalnya akuntansi pada masa Majapahit, Demak dan sebagainya. Sesuatu yang memang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit, kita akan sering berhubungan dengan para arkeolog ataupun berkas-berkas kuno, situs-situs dan bahkan dengan cara meditasi.

“Riset postmodernisme mungkin akan banyak yang kontra, namun ini merupakan salah satu bentuk riset yang harus diberi ruang, ini adalah riset ilmiah” tegasnya.

Diskusi yang digelar pagi hingga siang cukup hidup dengan beberapa pertanyaan dari tenaga pendidik, bagaimana memulai penelitian, prosesnya dan juga mempertanyakan tentang keilmiahan riset postmodernisme.

Di akhir paparannya, Eko Ganis mengatakan bahwa postmodernisme ini sangat menarik dan berharap institusi dapat menfasilitasinya sebagai salah satu bentuk pilihan riset mahasiswa ataupun dosen. Postmodernisme membuka ide-ide baru dan tantangan untuk setiap sarjana akuntansi yang tertarik untuk mengeksplorasi warna-warna baru akuntansi.

Humas FEB UNS

Komentar

Shares