Spread the love

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) melepas 18 mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) rekognisi mulai hari ini, Senin 15 Juni 2020 hingga 40 hari ke depan termasuk hari sabtu dan minggu. KKN rekognisi merupakan salah satu pengejawantahan dari kampus merdeka dan pengelolaan sepenuhnya berada di fakultas. Di masa pandemi ini, mahasiswa bisa memberdayakan diri di lingkungan sekitarnya, membersamai masyarakat dan mengembangkan berbagai hal yang disarankan dalam KKN rekognisi.

Kedelapan belas mahasiswa tersebut dibagi menjadi dua kelompok, satu Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) maksimal mengkoordinasikan 10 mahasiswa. Untuk pengelompokkan tersebut, Dr. Izza Mafruhah, M.Si. memberikan pendampingan untuk kelompok yang ada di Solo Raya dan Madiun, sedangkan untuk Jawa Tengah non Solo Raya, DKI Jakarta dan Jawa Barat dibimbing oleh Dr. Mugi Harsono, M.Si.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Dekan Bidang Alumni dan Kemahasiswaan FEB UNS sebagai pengelola KKN rekognisi, Dr. Mugi Harsono, M.Si. di Upacara Pemberangkatan KKN Rekognisi Secara Daring, Senin, 15 Juni 2020.

Selanjutnya disampaikan, KKN rekognisi diperuntukkan bagi mahasiswa yang belum mengambil mata kuliah KKN dalam Kartu Rencana Studi (KRS) dan nilai akan keluar saat mahasiswa mengambil mata kuliah KKN berikutnya. Apabila mahasiswa sudah mengambil matakuliah KKN dan ingin mengikuti KKN rekognisi, maka harus seijin Unit Pelaksana (UP) KKN.

“Saya berharap mahasiswa bisa memahami aturan KKN rekognisi selama masa pandemi, patuhi protokol kesehatan dan selalu menjaga nama baik FEB UNS. Karena ini adalah KKN yang sifatnya mandiri, misalkan ada kegiatan yang membutuhkan dana, mahasiswa bisa melakukan koordinasi dengan RT atau RW setempat” jelasnya.

Sementara itu, Dr. Izza Mafruhah, M.Si, Wakil Dekan Bidang Akademik diawal sambutannya mewakili Dekan FEB UNS menyampaikan bahwa rekognisi atau penyesuaian adalah satu upaya yang dilakukan oleh bidang 3 yang diberikan kepada mahasiswa, khususnya yang memiliki prestasi-prestasi spesial, misalnya ketika mahasiswa bisa menulis karya ilmiah kemudian masuk dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) dan menjadi finalis, maka mahasiswa tersebut berhak tidak ikut ujian skripsi dan lulus dengan nilai A atau melakukan pengabdian masyarakat dan pengabdian payung dengan dosen maka bisa direkognisi ke dalam mata kuliah magang atau wirausaha dan seterusnya. Dan salah satu mata kuliah yang bisa direkognisi adalah matakuliah KKN.

Selanjutnya dikatakan, dengan KKN rekognisi yang dilakukan dalam kondisi pandemi ini, mahasiswa justru bisa berperan nyata di dalam aktifitas-akiftitas kemanusiaan. Mahasiswa bisa membuat karya nyata dengan lintas ruang dan lintas waktu. Mahasiswa dari berbagai daerah secara bersama-sama bisa memberikan nilai plus kepada pelaku-pelaku usaha.

“Mahasiswa bisa mengambil topik-topik dan tema-tema yang ditawarkan oleh LPPM, tema-tema yang sifatnya ekonomi, kemanusiaan atau humaniora. Mahasiswa yang punya kemampuan bahasa Inggris, bisa melakukan kursus bahasa Inggris untuk UKM-UKM yang siap masuk pasar ekspor, bisa buat video tutorial yang bermanfaat, misal tentang ekonomi lingkungan, buat tanaman hidroponik dan sebagainya” jelasnya.

Hal-hal semacam ini yang sifatnya out of the box justru akan membuat nilai positif bagi mahasiswa yang melakukan aktifitas KKN rekognisi.(Humas FEB)

Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.

Komentar