Kerangka Prototipe Mesin Pencuci Piring Semi-Otomatis

Kerangka Prototipe Mesin Pencuci Piring Semi-Otomatis

Kebersihan menjadi syarat utama hidup sehat bagi masyarakat. Banyak upaya bisa dilakukan demi menjaga kebersihan. Dalam keseharian kita misalnya, kebersihan peralatan makan harus dipenuhi agar kesehatan badan senantiasa terjaga. Proses membersihkan peralatan makan cukup sederhana, caranya dengan meneteskan cairan pembersih pada piring, kemudian gosok dengan spon 2-3 kali kemudian bilas dengan air bersih.

Meski cukup sederhana, masih banyak orang yang mengabaikan pentingnya kebersihan peralatan makan. Kebersihan peralatan makan menjadi salah satu syarat bagi konsumen untuk memilih tempat makan. Hal yang paling mudah diamati adalah piring dan tempat pencuciannya. Namun kenyataannya tidak semua rumah makan memperhatikannya. Padahal saat ini jumlah rumah makan sangat banyak dan beragam jenisnya. Hal ini terjadi karena masyarakat menginginkan makanan enak dengan harga terjangkau. Tingginya populasi penduduk yang sebanding dengan tingkat konsumsi yang juga tinggi sesungguhnya membuat usaha rumah makan menjadi bisnis yang sangat menguntungkan. Konsumen yang datang untuk tiap rumah makan bervariasi tergantung lokasi dan jenis masakan. Rumah makan yang berlokasi di sekitar kampus misalnya, tiap harinya bisa melayani 500-700 orang pembeli. Untuk rumah makan yang berlokasi cukup jauh dari pusat kota, pembeli yang datang tiap harinya mencapai sekitar 40-70 orang, dan rumah makan yang berada di pusat kota, pembeli yang datang bisa mencapai 200-600 orang.

Namun seringkali banyak ditemui rumah makan yang sepi dan tidak laku. Bukan karena makanan yang tidak enak sehingga pembeli tidak mau makan di rumah makan tersebut, tetapi karena alat makannya yang kurang bersih. Hal ini juga terjadi di rumah makan yang memiliki banyak pembeli dan kewalahan menangani banyaknya piring kotor yang harus dicuci. Sehingga piring-piring kotor hanya dicelupkan ke dalam ember berisi air kemudian digosok-gosok dan ditiriskan begitu saja. Hal itu merugikan pembeli karena makanan yang dimakan menjadi tidak higienis dan dapat menyebabkan penyakit. Untuk menghemat waktu, mereka tidak mencuci dengan bersih. Sering kali juga karena faktor manusianya yang merasa lelah mencuci piring dalam jumlah yang sangat banyak dan rendahnya kesadaran terhadap kebersihan. Jika hal-hal tersebut tidak ditemukan penyelesaian masalahnya, dapat mengakibatkan penurunan tingkat kepercayaan konsumen yang berakibat pada menurunnya jumlah pembeli. Oleh karena itu, cara mencuci di rumah makan dan warung makan yang masih asal-asalan harus diubah agar konsumen merasa aman dengan mendapatkan makanan yang benar-benar terjamin kebersihannya. Alat pencuci piring dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu mempercepat proses pencucian dan meningkatkan kualitas kebersihan rumah makan. Namun saat ini masyarakat masih sangat jarang menggunakan mesin pencuci piring. Hal ini dikarenakan harganya yang kurang terjangkau, penggunaannya yang cukup sulit, juga perawatannya terbilang susah karena tidak setiap kota memiliki service centre.

Untuk itu, empat mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret Surakarta, yaitu Aditya Muhammad Nur, Hafidz Adyatama, Ahmad Arif S., dan Joko Supriyanto melalui Program Kreativitas Mahasiswa Penerapan Teknologi (PKM-T) bidang ilmu Teknik dan Rekayasa berinovasi menciptakan alat yang dapat membantu mempercepat proses pencucian dengan kualitas kebersihan yang baik. Rancang Bangun Mesin Pencuci Piring (Dish Washer) Semi-Otomatis, Hemat Tenaga, dan Mudah Perawatan yang digagas Aditya dan kawan-kawan adalah hasil rekayasa dari mesin pencuci piring (Dish Washer) yang sudah ada. Dengan mengurangi fitur yang jarang digunakan dan mengaplikasikan fitur utama, membuat alat hasil rekayasa ini menjadi lebih sederhana, lebih murah, dan mudah perawatan.

uji coba1

Komponen-komponen yang digunakan pada mesin pencuci piring ini antara lain plat stainless steel sebagai body. Stainless steel juga dikenal sebagai inox steel atau inox, artinya tidak dapat teroksidasi atau dengan kata lain tidak dapat terkorosi. Stainless steel merupakan campuran dari baja dan 10,5% atau 11% chrome. Stainless steel tidak mudah berkarat dibandingkan dengan logam lain oleh karenanya cocok digunakan untuk body alat yang sering terguyur air seperti mesin pencuci piring.

Untuk rangka menggunakan batang aluminium. Aluminium dipilih karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi, ringan, kuat, dan tahan karat. Penggunaan aluminium sebagai rangka dapat mengurangi massa alat sehingga didapatkan alat dengan bobot ringan. Sedangkan saluran keluar air menggunakan nozzle. Nozzle adalah sebuah komponen mekanik yang berfungsi sebagai pengatur arah dan tekanan aliran fluida. Swirl nozzle dipilih agar penyemprotan air dapat merata. Pompa air digunakan untuk membantu menyemprotkan air bertekanan.

Untuk mekanisme gerakan sikat pembersih digunakan gear. Gear adalah komponen mekanik yang berbentuk lingkaran dengan roda gigi di tepinya. Pada alat pencuci piring ini digunakan bevel gear. Kemudian agar air tidak merembes keluar dari alat dan mengotori tempat mencuci digunakan rubber seal atau pelindung dari karet yang dipasang pada pintu.

Dalam pelaksanaan program ini Aditya dan kelompoknya melakukan beberapa urutan rangkaian kegiatan yang diuraikan sebagai berikut:

1. Survei Lapangan
Survei lapangan dilakukan di beberapa daerah di Solo yang terdapat banyak rumah makan dan warung. Selain jumlah, Aditya dan kelompoknya juga meneliti tingkat kebersihan dalam pencucian alat makan di tempat-tempat tersebut. Kelompok PKM-T ini juga mencari data pendukung di internet untuk lebih memantapkan data-data yang diperoleh. Dari survei yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa di Solo banyak terdapat rumah makan dan warung kecil yang ada di pinggir jalan. Sebagian besar dari tempat makan tersebut tingkat kebersihan pada pencucian alat-alat makannya masih sangat kurang memadai. Proses pencuciannya yang cepat dan asal-asalan membuat alat-alat makan yang tersedia di warung tersebut kurang terjamin kebersihannya. Dan pemecahan masalahnya adalah dengan cara membuat alat pencuci piring sederhana, cepat, dan bersih. Selain itu, dari sisi harga juga harus dapat dijangkau oleh pedagang kecil.

2. Koordinasi
Setelah melakukan survei di lapangan, kemudian kelompok PKM-T ini melakukan koordinasi. Kegiatan ini dilakukan untuk menentukan bentuk dan desain alat yang akan dibuat. Selain itu juga untuk mematangkan rencana sehingga tidak ada kendala yang berarti dalam pelaksanaan kegiatan sehingga kegiatan dapat terselesaikan tepat waktu.

3. Desain Alat
Setelah menentukan bentuk alat, kemudian Aditya dan kelompok PKM-T ini mendesain bentuk alat tersebut.

4. Pembuatan Alat
Tahapan selanjutnya adalah pembuatan alat pencuci piring semi-otomatis. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan alat tersebut, antara lain:
a. Plat stainless steel
b. Galon
c. Batang Aluminium
d. Siku Besi
e. As besi
f. Serat karpet
g. Kran
h. Mur dan baut
i. Seal karet
j. Nozzle/ kompresor
k. Pipa kuningan
l. Tandon
m. Pompa Air
n. Gear

Dalam membuat alat ini, kelompok PKM-T Adit dan kawan-kawan dibantu oleh teknisi yang telah berpengalaman. Pembuatan alat tidak membutuhkan proses yang rumit, dan waktu yang dibutuhkan juga cukup singkat.

Berikut ini adalah foto prototipe mesin pencuci piring semi-otomatis:

Mesin Pencuci Piring Semi-Otomatis

Dan spesifikasi dari mesin pencuci piring semi-otomatis tersebut adalah sebagai berikut:

1. Dimensi :
a. Panjang : 100 cm
b. Lebar : 45 cm
c. Tinggi : 36 cm
2. Frame : Aluminium
3. Bodi : Stainless Steel
4. Penggerak : Dinamo 0.75 hp @500 rpm
5. Kapasitas : 7 dpc (dish per cycle)
6. Konsumsi Daya : 200 Watt

5. Cara Kerja Alat
Setelah jadi, mesin pencuci piring semi-otomatis ini diuji coba dengan cara kerja alat dengan melalui proses kerja sebagai berikut:
a. Memasukan piring kotor ke dalam mesin pencuci piring.
b. Membuka saluran kran pada galon yang berisi air yang telah di campur dengan sabun kemudian memutar tuas pembersih piring.
c. Membuka saluran kran dari tandon kemudian menyalakan pompa air sehingga piring disemprot dengan air bersih bertekanan untuk membilas sabun yang melekat pada piring.
d. Mengeluarkan piring dari alat pencuci kemudian mengelapnya dengan kain bersih.

Dari prototipe yang telah dibuat dapat diketahui bahwa proses pencucian piring diharapkan akan lebih cepat dan bersih dibandingkan dengan pencucian piring secara manual. Perbedaan kebersihan dan kecepatan proses pencucian ini terjadi karena dengan menggunkan alat pencuci piring semi-otomatis ini dalam sekali proses cuci dapat menampung 7 piring sekaligus dan dalam proses pencuciannya, pembersihan piring baik pada saat disabun, disikat, dan kemudian dibilas, dilakukan secara merata, sehingga hasilnya lebih bersih.

Putaran sikat pada mesin ini menggunakan motor dari mesin cuci sehingga sangat mencukupi untuk menggerakkan sikat dengan kecepatan yang memenuhi. Oleh karena itu proses pencuciannya dapat dilakukan dengan cepat dan bersih. Selain kecepatan putaran sikat, besar tekanan semprotan air yang keluar dari nozzle juga sangat cukup untuk membersihkan kotoran yang menempel pada piring.

Dengan kecepatan sikat dan besar tekanan air yang mencukupi maka kotoran-kotoran yang menempel pada piring akan dapat dibersihkan dengan sempurna. Sehingga konsumen tidak perlu meragukan kebersihan dari piring yang mereka gunakan.

6. Penyerahan Alat
Setelah mesin pencuci piring semi-otomatis ini selesai dibuat, kemudian alat ini diserahkan kepada mitra untuk diaplikasikan langsung. Sebagai mitra kerja, dalam hal ini dipilihlah rumah makan Poek-We demi meningkatkan kualitas kebersihan rumah makan tersebut sehingga semakin dipercaya oleh konsumen. Dengan begitu, diharapkan program kreativitas ini mendapat apresiasi dari pihak terkait sebagai bukti sebuah karya nyata dan usaha mahasiswa membuktikan eksistensinya dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa dan negara.

7. Evaluasi
Evalusi dilakukan untuk melihat sejauh mana hasil yang dicapai oleh mesin pencuci piring semi-otomatis yang telah dibuat, apakah masih banyak kekurangan atau tidak. Kritik dan saran dari mitra kerja sama sebagai pengguna sangat membantu dalam melakukan evaluasi produk ini.

8. Penyusunan Laporan Akhir
Langkah terakhir setelah menyelesaikan semua urutan kegiatan tersebut di atas, Aditya dan kelompok PKM-T-nya kemudian membuat laporan akhir sebagai laporan hasil kegiatan yang telah dilakukan.

Kesimpulan
1. Kecepatan dan kebersihan pencucian dipengaruhi oleh beberapa hal:
a. Kecepatan putaran motor.
Semakin cepat putaran motor semakin mudah kotoran terangkat, sehingga proses pencucian menjadi cepat. Sebaliknya semakin lambat putaran motor yang dihasilkan semakin sulit kotoran pada piring untuk dibersihkan, sehingga proses pencucian menjadi lama.
b. Tekanan semprotan air.
Semakin tinggi tekanan semprotan air, semakin baik mesin ini dalam membersihkan sisa kotoran yang masih menempel pada piring. Sehingga proses pembilasan semakin baik dan cepat serta lebih menghemat air.
c. Jenis sikat yang digunakan.
Semakin rapat susunan sikat, semakin baik proses pembersihan piring, karena semakin rapat susunan sikat, semakin mudah kotoran pada piring terangkat dan mudah dibilas.

2. Pencucian piring menggunakan alat yang telah dibuat ini menjadi lebih cepat dalam membersihkan piring dibandingkan dengan proses pencucian piring secara manual.

Saran
1. Rancang bangun mesin pencuci piring ini diharapkan dapat digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, terutama para pedagang makanan.

2. Semoga metode penerapan teknologi-teknologi tepat guna yang sederhana lebih dapat ditingkatkan lagi demi meningkatkan perekonomian masyarakat di Indonesia. (Kemahasiswaan dan Alumni)

Komentar

Shares