“ Sejak paruh ke-2 abad 20 peristiwa cuaca dan iklim yang ekstrim lebih sering terjadi, dan ada kecenderungan daerah basah akan semakin basah dan daerah kering akan semakin kering dan itu semua merupakan dampak adanya pemanasan global ” demikian dikemukakan Drs. Mulyono Prabowo, M.Sc Deputy Bidang Klimatologi BMKG Pusat sebagai salah satu narasumber pada Seminar Nasional di Fakultas Pertanian, FP UNS, Kamis 13 Oktober 2016.

Lebih lanjut Mulyono Prabowo menyoroti tanah yang mempunyai peran sebagai pengendali pemanasan global karena tanah juga sebagai salah satu komponen sistem iklim. Tanah merupakan dasar ekosistem darat dan 95% dari makanan yang dikonsumsi berasal dari tanah; Beberapa bentuk produksi biofuel dapat mengurangi simpanan karbon di tanah. Hasil penelitian terakhir bahan bakar nabati yang dibuat dari sisa tanaman jagung dapat meningkatkan emisi GRK karena bahan organik tersebut dibakar dari pada dikembalikan ke tanah; Merusak lapisan tanah berpotensi melepaskan karbon ke atmosfer; Emisi CO2 per Ha pada sistim pertanian organik lebih rendah 48%-66% dibanding sistim pertanian konvensional (menggunakan pupuk kimia), (FAO).FAPERTA Seminarkan “Tanah Sebagai Pengendali Pemanasan Global

Dengan mengangkat topik “Tanah Sebagai Pengendali Pemanasan Global” seminar menghadirkan narasumber yang lain antara lain :

  1. Prof. Dr. Ir. Kumiatun Hairiah (Guru Besar Universitas Brawijaya Malang)
  2. TO Suprapto (Founder Joglo Tani dan Guru Bertani Organik)

Hadir dalam seminar tersebut peserta dari unsur mahasiswa, staf pengajar dan parktisi.

Disisi yang lain TO Suprapto sebagai praktisi dibidang Agrobisnis menyoroti masalah kerawanan pangan sebagai dampak yang ditimbulkan dari adanya fenomena pemanasan global. Masalah pangan bukan sekadar perhitungan ekonomi dan tidak diselesaikan dengan mekanisme pasar. Bahkan bisa menjadi komoditi politik yang akan dapat mempengaruhi stabilitas pemerintahan. Lebih lanjut TO Suprapto memberikan alternatif solusi untuk mengatasi kerawanan pangan yaitu

  • Mengelola lahan kosong untuk budidaya pertanian
  • Membatasi alih fungsi lahan produktif
  • Mengembangkan budidaya Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL)
  • Mengatasi tekanan-tekanan dengan meningkatkan SDM pertanian
  • Membuat wadah belajar masyarakat pertanian terpadu

  Seminar juga dihadiri pembicara tamu Prof. Mohamed El Thotomy dari Dankook University, Korea. Dalam kesempatan Prof. Mohamed menekankan pentingnya kolaborasi antara Indonesia-Korea dalam hal riset serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

daerah basah akan semakin basah dan daerah kering akan semakin kering dan itu semua merupakan dampak adanya pemanasan global

 

Komentar

Shares